Tarikh Tasyrik
BAB I
PENDAHULUAN
Sebelum
kedatangan Islam jazirah Arab berada diantara dua kerajaan besar yaitu, Romawi
dan Persia. Oleh karena letak srategisnya, keagamaan bangsa Arab pada masa itu
beraneka ragam, akan tetapi mereka yakin bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang maha
Esa, namun dalam penyembahan kepada Tuhan mereka lakukan melalui perantaraan
sesuatu, agar mereka lebih dekat kepada Tuhan.
Lambat
laun, cara peribadatan mereka telah menyimpang daripada syariat Nabi Ibrahim
dan Ismail, kekeliruan tersebut berlanjut secara turun temurun dan berkembang, hingga
sampai kepada penyembahan terhadap batu-batu, kayu, jin, hantu, ruh, malaikat,
orang-orang yang dianggap sakti, dan lain sebagainya.
Selain
kejahiliyahan mereka terhadap agama karena lamanya masa Fatrah, disamping
itu pula moral dalam kehidupan masyarakat Arab pada masa itu, sangat tidak bisa
diterima oleh akal sehat, mereka masih percaya terhadap takhayul, seperti
lahirnya anak perempuan, menurut mereka anak perempuan tersebut dapat membawa
kesialan dan hilangnya nama baik, oleh karena itu mereka membunuh bayi
perempuan yang baru lahir.selain itu pula masih banyak pemahaman mereka
terhadap takhayul, yang menurut mereka dapat membawa berkah apabila mereka
mengikutinya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Keagamaan
Bangsa Arab Pra Islam
Sebelum islam bangsa
arab disekitar jazirah Arab telah menganut agama yang mengakui Allah sebagai
Tuhan mereka, sudah memahami keesaan Allah, sudah mengenal Tuhan Allah. Karena
mereka pada umumnya sejak beberapa ratus tahun yang lampau, sebelum Nabi
Muhammad diutus, sudah kerap kali kedatangan para Nabi utusan Allah, yang
menyampaikan seruan kepada mereka supaya menyembah kepada Tuhan yang maha Esa
semata-mata, jangan sampai mempersekutukan sesuatu dengan-Nya. Kepercayaan
tersebut diwarisi turun temurun sejak Nabi Ibrahim dan Ismail yaitu agama Hanif ,[1]
kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan yang
menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rizki. Namun setelah berlalu
waktu yang lama dan sering disebut dengan masa fatrah, yaitu masa terputusnya kenabian dalam jangka waktu
tertentu, maka masyarakat mengalami degradasi moral yang sangat tinggi.[2]
Akan tetapi, setelah
beberapa puluh tahun kemudian, agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang suci itu
diputarbalikkan, diubah, direka, ditambah, dan dikurangi oleh para pengikut itu
sendiri, hingga akhirnya agama Nabi Ibrahim tinggal nama saja. Mereka percaya
dan yakin bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang maha Esa. Dia yang menciptakan
segenap makhluk, yang mengurus, yang mengatur, dan yang memberi segala sesuatu
yang dihajatkan oleh segenap makhluk. Akan tetapi, dalam menyembah (beribadah)
kepada-Nya, mereka membuat atau mengadakan berbagai perantara, dengan tujuan
untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhan.
Kepercayaan kepada
Allah tetap mengental dalam diri bangsa Arab sampai kerasulan Nabi Muhammad
SAW, tetapi keyakinan itu dicampurbaurkan dengan tahayul dan kemusyrikan,
mengsekutukan Tuhan dengan sesuatu dalam menyembah dan memohon kepada-Nya,
seperti jin, ruh, hantu, bulan, matahari, tumbuh-tumbuhan, berhala dan
sebagainya. Kepercayaan yang menyimpang dari agama Hanif disebut dengan agama Watsaniyah,
yaitu agama yang mempersyarikatkan Allah dengan menyembah kepada: Ansab (patung
yang memiliki bentuk), Autsan (patung yang terbuat dari batu), dan Ashnam
(patung yang terbuat dari kayu, emas, perak, logam, dan semua patung yang tidak terbuat dari kayu).[3] Diantara
beberapa sesembahan bangsa Arab dapat dikelompokkan; pertama, menyembah Malaikat; kedua,
menyembah jin dan ruh; ketiga,
menyembah bintang-bintang; keempat,
menyembah berhala; kelima, agama ahli
kitab (Yahudi dan Nasrani).
Sepanjang riwayat, penyebab diantara
mereka hingga menyembah berhala atau arca karena sebagian besar dari mereka
terlalu memuliakan Masjidil Haram dan Ka’bah. Setiap kali mereka ziarah ke
daerah suci Mekkah untuk mengerjakan ibadah haji menurut syariat Nabi Ibrahim,
mereka kembali dengan membawa batu-batu yang ada di sana ke negeri mereka masing-masing. Kemudian
batu-batu yang dibawanya itu dimana saja mereka berhenti lalu ditaruhnya
batu-batu itu di tempat yang istimewa, lalu batu-batu itu dikelilingi oleh
mereka sebagaimana biasa mereka mengelilingi Ka’bah. Mereka mengerjakan
demikian itu dengan tujuan hendak mengambil berkah, akibat sangat cinta dan
menghormati Ka’bah. Kemudian lama kelamaan tertariklah mereka untuk menyembah
batu-batu dan berhala-berhala itu, dan mereka lupa akan petunjuk agama Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail yang sebenarnya.
Selain itu, ada pula riwayat yang
mengatakan bahwa penyebab bangsa Arab menyembah berhala, terutama
berhala-berhala yang ada disekeliling Ka’bah itu, adalah sebagai berikut:
Amr bin Lubayyi, seorang dari banu
Khuza’ah yang telah merebut kekuasaan atas Ka’bah dan kota Mekkah dari tangan Jurhum. Setelah mengalahkan
Jurhum, dia pergi ke Balqa, daerah Syam. Di sana, dia melihat penduduknya yang menyembah
berhala-berhala, arca-arca, dan sebagainya. Dia tertarik dan terpengaruh oleh
mereka sehingga ia mengikuti kelakuan mereka. Oleh sebab itu, ketika pulang
dari sana dibwanya satu berhala besar yang bernama Hubal, menurut riwayat
berhala Hubal itu dibuat dari batu Akik merah, seperti orang, tangannya yang
sebelah kanan telah patah, kemudian setelah menjadi berhala kaum Quraisy lalu
mereka membuatkan tangan dari emas sebagai gantinya yang patah itu. Menurut
riwayat lain, Hubal ditaruh di dalam Ka’bah dan dijadikan berhala yang paling
besar di dalam dan di luar Ka’bah. Kemudian dipujanya dan disembahnya.
Ketika itu, dia berseru kepada
segenap penduduk Hijaz supaya menyembah berhala yang besar itu, terutama kepada
orang-orang yang sedang mengerjakan ibadah haji dari segenap penjuru daerah
Arab. Seruannya berpengaruh juga dan lambat laun banyaklah diantara penduduk
Hijaz yang menyembah berhala itu, selanjutnya, lama kelamaan berhala yang
mereka sembah itu bertambah banyak sehingga terpaksa mereka taruh disekeliling
Ka’bah.
Selain menyembah berhala, bangsa
Arab juga sebagian kecilnya masih menganut agama ahli Kitab (Yahudi dan
Nasrani). Para ulama ahli Tarikh menceritakan
bahwa pada masa itu agama kaum Yahudi dan agama kaum Nasrani berkembang dan
tersebar diseluruh jazirah Arab. Agama yahudi berkembang di Arab karena pada
masa itu kaum Yahudi yang ada di negeri Asyur di usir oleh kerajaan Romawi.
Sekalipun sedang dalam pengusiran, mereka tetap rajin dan giat menyiarkan
agamanya. Banyak pula diantara mereka yang lari ke daerah Yaman dan Hijaz. Yang
ada di daerah Hijaz, sebagian besar lalu berdiam di kota Yatsrib. Sementara itu agama Nasrani
berkembang di jazirah Arab karena pada masa itu agama Nasrani mendapat bantuan
yang besar dari kerajaan Romawi dan kerajaan Habsyi. Oleh sebab itu, walaupun
sedikit demi sedikit, berkembang juga agama Nasrani di jazirah Arab.
Karena pemeluk kedua agama itu pada
masa itu sudah selalu berselisih dan bertengkar maka dijazirah Arab mereka
berebut pengaruh dan keunggulan dalam mengembangkan agamanya masing-masing,
sehingga pernah terjadi juga peperangan antara dua agama tersebut.
Kehidupan keagamaan dikalangan
bangsa Arab Jahiliyah memang beraneka ragam menjelang kenabian, tetapi ada juga
kelompok dalam masyarakat yang terbebas dari pengaruh agama Watsaniyah, yaitu agama Yahudi dan agama
Nasrani. Kelompok tersebut berpegang teguh pada ajaran Hanif, menyeru untuk mengesakan Allah dan melepaskan diri dari adab
Jahiliyah, seperti membunuh bayi wanita, meminum khamar, dan bermain judi.
Diantara mereka adalah Umayah bin Abi Shalat seorang penyair, Waraqah bin
Naufal yang memiliki kitab Injil, Qayis bin Saodah Al-Abadiy seorang yang arif
dan bijaksana, ahli pidato dan hakim. Dapat dikatakan bangsa Arab pada umumnya
tidak meninggalkan agama Hanif,
beberapa ajarannya tetap terpelihara dan dijalankan dengan patuh. Hanya saja
dibaurkan dengan upacara pemujaan kepada berhala. Ka’bah sebagai rumah ibadah
tetap dimuliakan dan Mekkah tetap dianggap sebagai kota suci dan pusat peribadatan. Tiap tahun
mereka ziarah dan mengerjakan ibadah haji. Ditengah-tengah pelaksanaan ibadah
hajji itu mereka melakukan penyimpangan. Misalnya mereka thawaf mengelilingi
Ka’bah tanpa busana.[4]
Disisi lain tidak dapat dipungkiri
ditengah kehidupan orang-orang jahiliyah banyak terdapat hal-hal yang hina,
moral dan masalah-masalah yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, juga tidak
disukai oleh manusia. Akan tetapi mereka masih memiliki akhlak-akhlak yang
terpuji diantaranya: kedermawanan, memenuhi janji, kemuliaan jiwa dan
keengganan menerima kehinaan dan kezaliman, pantang mundur, serta
kelemahlembutan dan suka menolong orang lain (hanya saja sifat ini kurang
tampak karena mereka berlebihan dalam masalah keberanian dan mudah terseret
dalam peperangan), dan kesederhanaan pola kehidupan Badui ( kejujuran, dapat
dipercaya, meninggalkan dusta dan pengkhianatan).[5]
Kaitannya dengan relasi gender dalam
masyarakat Arab tidak banyak berbeda dengan masyarakat sekitarnya, artinya
laki-laki bertugas membela dan mempertahankan seluruh anggota keluarga. Konsekuensinya
laki-laki memonopoli semua kepemimpinan dalam semua tingkat, mulai dari kepala
rumah tangga, kepala suku atau qabilah. Termasuk kewenangan laki-laki memimpin
acara ritual keagamaan dan acara-acara ceremonial lainnya. Promosi karir dalam
berbagai profesi dalam masyarakat hanya bergulir dikalangan laki-laki. Perempuan
mengurus urusan yang berhubungan dengan reproduksi. Laki-laki lebih banyak
bertugas di luar rumah (wilayah publik), sementara perempuan bertugas di dalam
atau disekitar rumah atau kemah-kemah (wilayah domestic).[6]
B. Moral Bangsa
Arab Pra Islam
Sebelum kedatangan
Islam, bangsa Arab memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk sehingga masa itu dikenal
dengan masa Jahiliyah, banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh
mereka sangat bertolak belakang dengan syariat Nabi Ibrahim, bahkan apa yang
mereka lakukan tidak masuk akal dan merugikan orang lain. Diantara kebiasaan-kebiasaan
yang mereka lakukan sebelum datangnya Islam adalah:
1.
Meminum arak
2.
Perjudian
3.
Pelacuran
4.
Pencurian dan Perampokan
5.
Kekejaman
6.
Kekotoran dalam urusan makan dan minum
7.
Tidak punya kesopanan, dan
8.
Pertengkaran dan perkelahian.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sebelum islam
bangsa arab disekitar jazirah Arab telah menganut agama yang mengakui Allah
sebagai Tuhan mereka, sudah memahami keesaan Allah, sudah mengenal Tuhan Allah.
Karena mereka pada umumnya sejak beberapa ratus tahun yang lampau, sebelum Nabi
Muhammad diutus, sudah kerap kali kedatangan para Nabi utusan Allah, yang
menyampaikan seruan kepada mereka supaya menyembah kepada Tuhan yang maha Esa
semata-mata, jangan sampai mempersekutukan sesuatu dengan-Nya. Kepercayaan
tersebut diwarisi turun temurun sejak Nabi Ibrahim dan Ismail yaitu agama Hanif ,[7]
kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan yang
menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rizki. Namun setelah berlalu
waktu yang lama dan sering disebut dengan masa fatrah, yaitu masa terputusnya kenabian dalam jangka waktu
tertentu, maka masyarakat mengalami degradasi moral yang sangat tinggi.[8]
Mereka percaya dan
yakin bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang maha Esa. Dia yang menciptakan segenap
makhluk, yang mengurus, yang mengatur, dan yang memberi segala sesuatu yang
dihajatkan oleh segenap makhluk. Akan tetapi, dalam menyembah (beribadah)
kepada-Nya, mereka membuat atau mengadakan berbagai perantara, dengan tujuan
untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhan.
Adapun moral bangsa
Arab yang berlaku sebelum kedatangan Islam yaitu: Meminum arak, perjudian,
pelacuran, pencurian dan perampokan, kekejaman, kekotoran dalam urusan makan
dan minum, tidak mempunyai kesopanan, dan pertengkaran dan perkelahian.
[1] Misri A.Muchsin,(ed.) Dinamika....hlm.8.
[2] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam....hlm.73.
[3] Team Penyusun Textbook, Sejarah....hlm.8.
[5] Syekh Syafiyyurrahman
Al-Mubarakfury, sirah....hlm. 63-64
[6] Nasaruddin Umar, Argumen.... hlm.135.
[7] Misri A.Muchsin,(ed.) Dinamika....hlm.8.
[8] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam....hlm.73.
Post a Comment for "Tarikh Tasyrik"